Notifikasi
Tidak ada notifikasi baru.

Dari Dinding Sekolah Menjadi Jendela Dunia: Gerakan Literasi Baca di SDN 64 Halmahera Selatan

Literasi Budaya Membaca di Halmahera Selatan

Komik dinding

KOMIK DINDING SD NEGERI 64 HALMAHERA SELATAN: Inovasi Kreatif Guru PPG Prajabatan untuk Meningkatkan Literasi Baca

Di tengah semilir angin pantai dan hamparan perkebunan kopra Desa Bisui, Kecamatan Gane Timur Tengah, berdiri SD Negeri 64 Halmahera Selatan sebagai pusat belajar anak-anak tingkat dasar yang penuh semangat. Budaya baca di daerah ini masih terbilang rendah. Maka dari itu, dibutuhkan suatu perubahan yang bisa meningkatkan literasi baca peserta didik di SD N 64 Bisui. Tidak hanya menghadirkan pembelajaran di dalam kelas, sekolah ini juga menghadirkan inovasi literasi yang unik dan menarik yakni Komik Dinding Sekolah.

Karya ini digagas oleh salah satu guru lulusan PPG Prajabatan asal Yogyakarta, yang memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan kemampuan literasi baca peserta didik. Berangkat dari tantangan rendahnya minat baca pada sebagian siswa sekolah dasar, guru tersebut menciptakan media pembelajaran visual yang dekat dengan dunia anak yaitu komik bergambar.

Mengapa Komik Dinding?

Anak-anak secara alami menyukai gambar dan cerita. Komik menggabungkan teks sederhana dengan ilustrasi menarik, sehingga membantu siswa memahami isi bacaan tanpa merasa terbebani. Melalui komik dinding yang dipajang di lorong sekolah dan depan kelas, siswa dapat membaca secara santai saat jam istirahat atau sebelum pembelajaran dimulai.

Komik yang dibuat memuat:

  1. Cerita tentang kehidupan sehari-hari siswa di Desa Bisui
  2. Nilai karakter seperti disiplin, gotong royong, dan kejujuran
  3. Cerita edukatif tentang lingkungan pantai dan perkebunan
  4. Materi ringan seperti sains sederhana dan cerita rakyat lokal

Setiap komik terdiri dari 4–6 panel dengan kalimat singkat, sehingga ramah untuk pembaca pemula kelas rendah maupun kelas tinggi.

Dampak Positif terhadap Literasi

Sejak dipasang, komik dinding menjadi pusat perhatian siswa. Mereka terlihat berkerumun membaca, berdiskusi, bahkan menirukan dialog tokoh dalam cerita. Secara bertahap, guru mengamati beberapa perubahan positif:

1. Meningkatnya minat baca siswa;
2. Bertambahnya kosakata baru setiap minggu;
3. Siswa lebih percaya diri membaca nyaring;
4. Munculnya kreativitas siswa untuk membuat komik sendiri.

Bahkan, beberapa siswa kelas tinggi mulai dilibatkan dalam proses pembuatan cerita. Mereka diajak menulis naskah sederhana yang kemudian diilustrasikan bersama. Hal ini tidak hanya meningkatkan literasi baca, tetapi juga literasi tulis.

Selaras dengan Kurikulum Merdeka

Inovasi komik dinding ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran bermakna dan kontekstual. Media ini mendukung pembelajaran berbasis proyek kecil (mini project) dan memperkuat Profil Pelajar Pancasila, terutama dalam aspek kreatif dan bernalar kritis.

Guru PPG Prajabatan tersebut membuktikan bahwa peningkatan literasi tidak selalu harus melalui cara konvensional. Dengan kreativitas dan pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, dinding sekolah pun dapat berubah menjadi “perpustakaan visual” yang hidup.

Harapan ke Depan

Ke depan, komik dinding ini direncanakan menjadi program rutin bulanan dengan tema berbeda setiap edisi. Bahkan, sekolah berencana membuat "Pojok Komik Literasi" sebagai ruang baca mini berbasis karya siswa dan guru.

Inovasi sederhana ini menjadi bukti bahwa dari Desa Bisui, SD Negeri 64 Halmahera Selatan terus melangkah maju menghadirkan pembelajaran yang inspiratif, kreatif, dan menyenangkan.

Sorotan